fbpx
Inilah Perbedaan Masjid Nabawi dan Masjidil Haram yang Perlu Kita Ketahui

Inilah Perbedaan Masjid Nabawi dan Masjidil Haram yang Perlu Kita Ketahui

Seputar Umroh & Haji | 22 September 2022

Perbedaan Masjid Nabawi dan Masjidil Haram. Jamaah haji maupun jamaah umroh pasti mengunjungi tempat ibadah Masjid Nabawi dan Masjidil Haram. Keduanya adalah dua masjid suci bagi umat muslim. Masjid Nabawi yang berada di Madinah untuk berziarah makam Rasulullah, melaksanakan shalat Arbain, atau berdoa di Raudhah. Sedangkan Masjidil Haram yang ada di Mekkah untuk melaksanakan ibadah umroh atau ibadah haji.

Selain letak keberadaannya, ada beberapa perbedaan antara kedua masjid ini. Berikut beberapa perbedaan Masjid Nabawi dan Masjidil Haram yang perlu kita ketahui, melansir dari laman NU Online..

Arah Kiblat

Pada Masjidil Haram, yang mana Ka’bah berada di dalamnya, saat melaksanakan shalat semua arah menghadap ke kiblat, oleh karena itu bentuk Masjidil Haram mengitari Ka’bah.

Sementara, Masjid Nabawi posisinya menunjuk ke arah selatan, yaitu menuju kiblat Mekkah.

Perbedaan Masjid Nabawi dan Masjidil Haram: Bangunan

Secara keseluruhan, ada 129 pintu dan masing-masing pintu memiliki nama. Oleh karena itu bagi para jamaah yang baru pertama kali datang ke Masjidil Haram, akan mudah tersesat.

Berbeda dengan Masjid Nabawi, sama seperti masjid-masjid pada umumnya, hanya ada satu arah, sehingga resiko tersesat sangat minim.

Baik Masjid Nabawi ataupun Masjidil Haram sudah banyak mengalami perluasan dari zaman ke zaman. Namun, pembangunan di Masjidil Haram, hingga sekarang ini masih terus berlangsung, dengan tujuan agar bisa menampung jamaah lebih banyak.

Luas komplek Masjidil Haram tercatat hingga mencapai 357 ribu meter persegi. Dengan luasnya ini, Masjidil Haram dapat menampung sekitar 1-2 juta jamaah di dalamnya.

Untuk luas Masjid Nabawi mencapai sekitar 100 ribu meter persegi.

Jarak dari Penginapan

Baik komplek Masjidil Haram atau Masjid Nabawi, dua-duanya dikelilingi oleh penginapan. Biasanya, semakin dekat dengan lokasi, semakin mewah dan semakin mahal juga. Untuk jamaah haji yang menginap di hotel yang ada di Zamzam Tower, mereka tinggal turun dan sampai depan sudah masuk halaman Masjidil Haram.

Selama di Madinah, jamaah haji tinggal di hotel-hotel yang lokasinya sangat dekat dengan Masjid Nabawi. Mereka tinggal berjalan kaki untuk menuju ke Masjid Nabawi. Hal ini tentu memberi kemudahan lebih karena bisa datang dan pergi dari masjid kapan saja tanpa perlu khawatir.

Pelindung Halaman

Ketika ruangan yang ada di dalam sudah penuh, jamaah bisa menggunakan halaman luas yang dimiliki oleh kedua masjid ini.

Masjid Nabawi Madinah

Di Masjidil Haram, lokasinya merupakan ruang terbuka. Ketika menjelang shalat, para petugas akan menggelar karpet yang kemudian akan menggulungnya lagi saat pelaksanaan shalat telah usai.

Pada siang hari, halaman Masjidil Haram menjadi sangat panas karena tidak ada pelindungnya. Namun, lantai Masjidil Haram tetap dingin karena adanya marmer khusus yang bisa menahan panas.

Berbeda saat di Masjid Nabawi, terdapat payung-payung raksasa yang akan terbuka pada pagi hari, ketika malam hari, payung-payung tersebut akan ditutup. Payung ini menjadi pelindung dari panas yang menyengat saat siang hari atau ketika saat hujan.

Pengajian

Baik di Masjidil Haram atau di Masjid Nabawi terdapat pengajian. Di Masjidil Haram, pengajian diselenggarakan di sudut tertentu yang jarang terlihat oleh jamaah yang kebetulan lewat.

Di Masjid Nabawi banyak sekali halaqah yang membentuk lingkaran kecil yang dipimpin oleh seorang guru. Para guru tersebut secara khusus mengajari jamaah membaca Qur’an dengan benar. Pengajar resmi tersebut memajang sebuah plakat seukuran kertas A4 yang bertuliskan Arab dan Inggris.

Yang berbahasa Inggris, berbunyi “Qur’an teaching for visitors”. Guru tersebut bukan hanya menunggu jamaah datang, namun mereka juga memanggil jamaah yang sebelumnya hanya melihat-lihat. Kemudian mereka akan mengajari membaca Qur’an yang benar. Pada salah satu sudut, seusai Shalat Maghrib, juga terdapat pengajian dengan bahasa Indonesia yang penceramahnya dipimpin oleh pengelola Masjid Nabawi.

Perbedaan Masjid Nabawi dan Masjidil Haram: Tempat berdoa

Baik di Masjidil Haram maupun di Masjid Nabawi, terdapat tempat yang mustajab untuk berdoa. Di Masjidil Haram, tempat yang mustajab berada di Multazam yang lokasinya antara Hajar Aswad dengan pintu Ka’bah.

Jamaah dapat berdoa kapanpun di tempat tersebut sejauh bisa berada di tempat itu, tidak ada batasan waktu untuk berdoa.

Di Masjid Nabawi, lokasi yang mustajab untuk berdoa berada di Raudhah, yaitu antara mimbar yang menjadi tempat Rasulullah mengajarkan Islam kepada para sahabat dengan rumah Nabi. Lokasi ini diberi karpet dengan warna hijau yang berbeda dengan karpet lain di Masjid Nabawi.

Karena lokasinya terbatas sementara banyak orang yang ingin berdoa dan berlama-lama di Raudhah, kini ada pengaturan. Untuk masuk Raudhah, jamaah harus mendaftar secara daring melalui aplikasi online. Waktu ke Raudhah dibatasi hanya 15 menit. Setiap bulan hanya dapat berkunjung sekali.

Nilai Pahala

Baik Masjid Nabawi atau Masjidil Haram, memiliki nilai pahala yang lebih utama dibandingkan dengan masjid biasa. Rasulullah melarang umat Islam melakukan perjalanan jauh kecuali ke Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjidil Aqsa. Nilai shalat di Masjidil Haram setara dengan 100 ribu kali daripada shalat di masjid biasa sementara nilai shalat di Masjid Nabawi setara dengan seribu kali shalat di masjid biasa.

Jejak Rasulullah

Pada Masjidil Haram, terdapat lokasi yang diyakini sebagai tempat kelahiran Rasulullah yang kini tempat tersebut diubah menjadi sebuah perpustakaan Makkah Al Mukarramah. Lokasinya berada di bagian timur Ka’bah, yang dengan mudah terlihat jika jamaah menuju terminal bus Syib Amir.

Pada Masjid Nabawi, terdapat ruangan yang dulu merupakan rumah Rasulullah dan kemudian di sanalah Nabi Muhammad dimakamkan. Bagian yang dulu menjadi rumah Nabi Muhammad sekarang menjadi sebuah masjid.

Rasulullah dimakamkan di tempat di mana beliau meninggal. Lokasinya ditembok sebagai pelindung makam. Tidak ada pintu untuk masuk. Pada bagian luarnya terdapat pagar yang terbuat dari emas. Terdapat juga tiga lubang yang menunjukkan posisi masing-masing makam, Rasulullah, Abu Bakar, dan Umar bin Khattab.

Makam Bersejarah

Masjidil Haram berlokasi tidak jauh dari makam bersejarah bernama Ma’la. Di makam ini bersemayam jenazah para keluarga Nabi Muhammad SAW, termasuk istri pertama nabi, Sayyidah Siti Khadijah. Pemakaman yang juga terkenal dengan sebutan Jannatul Ma’la (surga tinggi) ini terletak di sebelah utara Masjidil Haram.

Al-Ma’la terbentang di dataran tinggi bukit Jabal As-Sayyidah, perkampungan Al-Hujun yang letaknya tidak jauh dari Masjidil Haram.

Masjid Nabawi dekat dengan Pemakaman Baqi, makam para keturunan nabi, sahabat, dan para syuhada. Makam Baqi berada sekitar 500 meter sebelah Timur Masjid Nabawi. Makam Baqi menjadi salah satu tempat favorit yang dikunjungi jamaah selain Makam Nabi Muhammad SAW dan Raudhah.

Masjidil Haram atau Masjid Nabawi memiliki nilai sejarah dan kelebihannya masing-masing. Ada banyak pengetahuan penting yang dapat kita ambil dari sejarah dua masjid tersebut. Semoga kita bisa berkunjung dan beribadah ke masjid suci tersebut, Aamiin.

Dalam paket umroh Solo 9 hari, Biro Umroh Solo Dewangga, sudah termasuk kunjungan ke Madinah selama 3 hari dan ke Mekkah 4 hari.

Halo Dewangga!